Sosialisasi “Fakta di Balik Mitos Donor Darah”

Dalam rangka memperingati serangkaian Hari Palang Merah Sedunia, UKM KSR-PMI Unit Undiksha mengadakan berbagai acara, diantaranya adalah sosialisasi donor darah. Sosialisasi ini diadakan pada tanggal 3 Mei 2012, dirangkaikan dengan upacara pembukaan serangkaian peringatan Hari Palang Merah Sedunia dan pembukaan stand PaGoDaKu (aPa Golongan DarahKu). Sosialisasi yang mengangkat tema, “Fakta di balik mitos donor darah” ini diadakan dengan tujuan mengubah persepsi-persepsi salah yang terlanjur menjamur di masyarakat mengenai donor darah. Sosialisasi disampaikan langsung oleh dr. Rizani selaku kepala UDD Kabupaten buleleng. 




Dalam sosialisasi ini, dr. Rizani menyampaikan banyak hal seputar donor darah. Mulai dari latar belakang diadakannya donor darah, syarat dan ketentuan bagi seorang pendonor, proses pengolahan darah sebelum diberikan ke resipien, permasalahan yang ada dalam donor darah, mitos-mitos yang berkembang di masyarakat seputar donor darah dan fakta seputar mitos tersebut, dan masih banyak hal lain yang disampaikan oleh beliau. Dengan hidmad pula para peserta sosialisasi yang terdiri dari delegasi masing-masing ormawa mendengarkan penjelasan yang disampaikan oleh dr. Rizani dengan seksama dan antusias.



Menurut dr. Rizani, latar belakang dilakukannya kegiatan donor darah adalah meningkatnya kebutuhan darah di masyarakat. Baik kebutuhan darah karena sebab suatu penyakit, operasi medis, bencana alam, dan kejadian-kejadian lain yang sifatnya incidental dalam hal pemenuhan kebutuhan darah. Sekedar informasi, kebutuhan akan darah di Indonesia meningkat setiap tahunnya, seiring dengan bertambahnya keragaman jenis penyakit, peningkatan jumlah kecelakaan lalu lintas, dan terjadinya bencana alam. Namun sayangnya, Indonesia saat ini hanya mampu memenuhi sekitar 20 % saja dari jumlah total kebutuhan darah nasional. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran masyarakat akan pentinya melakukan donor darah.
            Syarat-syarat bagi seorang pendonor tidaklah sulit dan cukup wajar. Syarat-syarat tersebut antara lain : Pendonor harus dalam keadaan sehat dan tidak menderita penyakit apapun, berusia minimal 17 tahun, memiliki berat badan minimal 45 kg, tidak sedang mengandung atau menstruasi bagi pendonor wanita, memiliki tekanan darah normal, dan telah mengisi formulir pendaftaran sebagai penonor.
            Darah yang telah didapat dari pendonor tidak dapat langsung diberikan kepada resipien. Darah harus menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu. Saat pemeriksaan inilah darah dicek apakah mengandung penyakit, atau tidak. Penyakit-penyakit yang biasanya diperiksa diantaranya adalah hepatitis, HIV/AIDS, dan penyakit-penyakit lain yang berpotensi dapat menular dalam darah.
Selain itu, sebelum darah pendonor ditransfusikan kepada resipien, darah juga harus menjalani proses cross, yaitu pencampuran sampel darah pendonor dan resipien. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah darah pendonor dan resipien sudah sesuai atau terjadi reaksi tertentu seperti penggumpalan. Apabila dalam proses cross, sampel darah pendonor dan resipien bereaksi, maka transfuse tidak dapat dilakukan, dan harus segera dicarikan donor pengganti. Menurut dr. Rizani, belum tentu resipien yang memiliki golongan darah A akan selalu cocok apabila diberikan darah pendonor yang bergolongan A pula. Oleh karena itu, setiap darah yang ditampung oleh Unit Donor Darah (UDD) harus menjalani serangkaian proses untuk menjaga keselamatan resipien dan pendonor. Karena apabila darah pendonor diketahui mengandung penyakit, maka pihak UDD akan segera menghubungi pendonor bersangkutan agar segera mendapatkan perawatan kesehatan.
Permasalahan yang sering terjadi dalam donor darah menurut dr. Rizani sangatlah beragam. Permasalahan yang paling sering muncul adalah ketersediaan darah tidak sebanding dengan jumlah pasien/resipien yang terus bertambah. Hal ini diperburuk dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah yang masih sangat rendah. Belum lagi terkadang ada pendonor yang dengan sengaja memberikan darahnya yang terjangkit penyakit. Hal ini tentusaja segera dapat diketahui sebelum sampai kepada resipien karena darah sebelumnya telah mengalami pemeriksaan di laboratorium. Hal inilah yang menyebabkan harga sekantong darah sangatlah mahal. Karena dalam laboratorium, darah menjalani berbagai proses yang kompleks dan proses ini memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Seputar mitos-mitos yang berkembang di masyarakat, dr. Rizani juga meluruskan beberapa hal. Apabila mesyarakat berpendapat bahwa donor darah dapat menyebabkan gemuk atau kurus, hal itu salah besar. Karena donor darah tidak ada kaitannya dengan penambahan dan pengurangan berat badan. Adapula mitos yang berkembang bahwa setelah donor darah, badan akan terasa lemah dan kita akan kekurangan darah. Hal itu juga salah besar. Pada saat darah diambil, maka sumsum tulang belakang akan memproduksi sel darah yang baru, dan dalam hitungan jam, jumlah sel darah kita akan kembali seperti semula, bahkan karena sel darah merah diperbaharui, akan berpengaruh pada kulit, diantaranya kulit menjadi lebih segar, sehingga orang yang rutin donor darah akan terlihat awet muda. Jadi, donor darah bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, karena ternyata dibalik donor darah, kita dapat memetik sejuta manfaat didalamnya.(Ajeng)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar